Nasionalisme di Timnas Indonesia

1

Nasionalisme di Timnas Indonesia – Indra Sjafri selaku direktur PSSI, memiliki sebuah pandangan terntang nasionalisme di timnas Indonesia. Pria kelahiran Batang Kapas, Sumatra Barat, itu mengawali kariernya sebagai pelatih pada 2011. Dia dipercaya menangani Timnas Indonesia U-16 untuk tampil pada kualifikasi Piala Asia 2012 di Thailand pada September 2011.

Namun, Tim Garuda Muda gagal lolos ke putaran final. Tergabung di Grup G, Timnas Indonesia U-16 hanya mampu menghuni peringkat ketiga dengan poin sembilan hasil dari tiga kemenangan dan dua kali kalah.

Proses Seleksi Tak Jelas
Para pemain Timnas Indonesia U-19 serius mendengarkan arahan pelatih Indra Sjafri di Paju Football Center, Korea Selatan, 2/11/2017). Indonesia akan melawan Korea Selatan Sabtu 4 November 2017.(Bola.com/Dok.PSSI/Bandung Saputra)
Kegagalan Timnas Indonesia U-16 berlaga di Piala Asia 2012 tidak lepas dari buruknya proses seleksi pemain. Indra Sjafri menyebut ketika itu parameter dalam seleksi pemain tidak jelas karena hanya didominasi pemain yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya.

“Ketika di awal melatih timnas pada 2011, saya gagal. Tetapi, saya tidak dipecat, mungkin itu takdir dan keberkahan untuk saya. Awalnya, tim nasional itu terdiri dari pemain-pemain yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya,” kata Indra Sjafri.

“Dari 56 pemain yang diberikan kepada saya pada Februari 2011, hampir 90 persen adalah anak-anak dari Jakarta dan sekitarnya. Tidak jelas parameter pemilihan pemain karena sama sekali tidak berdasarkan level dunia, Asia, bahkan Asia Tenggara.”

“Hanya dua dari 56 itu yang lanjut menjalani karier di sepak bola, yaitu Hargianto dan Bagas Adi,” tutur mantan pelatih Bali United tersebut.

Baca Juga   :Sergio Farias Dan Kisahnya Bersama Persija

Melakukan Blusukan
Kegagalan pada kualifikasi Piala Asia U-16 2012 membuat Indra Sjafri melakukan evaluasi. Dia akhirnya melakukan blusukan ke-34 provinsi di Tanah Air untuk menemukan bakat-bakat pesepak bola muda Indonesia.

Indra Sjafri berhasil mendapatkan pemain-pemain berkualitas yang berasal dari penjuru Indonesia. Mulai Zulfiandi (Aceh), Hendra Sandi (Aceh), Paulo Sitanggang (Sumatra Utara), Hansamu Yama (Jawa Timur), Evan Dimas (Jawa Timur), hingga Ilham Udin Armaiyn (Ternate).

Berkat tangan dingin Indra Sjafri, nama-nama tersebut menjadi tumpuan Timnas Indonesia U-19. Menerapkan gaya bermain Pepepa (umpan pendek-pendek-panjang), Tim Garuda Muda berhasil menjuarai Piala AFF U-19 2013.

“Setelah saya melakukan evaluasi, di situ saya merasa ada yang tidak benar. Masak tim sepak bola Indonesia hanya dari Jakarta dan sekitarnya, itu tidak memperlihatkan ke Indonesiaan,” ucap Indra Sjafri.

“Saya akhirnya blusukan dari Sabang sampai Merauke ke-34 provinsi, hingga akhirnya terbentuk Evan Dimas Cs. Itu benar-benar menunjukkan ke Indonesiaan karena ada pemain dari Aceh hingga Papua,” jelasnya.

“Memang tidak mewakili semua provinsi, tetapi ada keadilan dalam pembentukan tim, ada kejujuran dan parameter nya jelas. Hingga akhirnya timnas yang saya bentuk berhasil menjadi juara,” lanjutnya.